Sesorah merupakan istilah dalam bahasa Jawa yang merujuk pada kegiatan berpidato atau menyampaikan gagasan secara lisan di hadapan khalayak ramai. Dalam konteks budaya Jawa, sesorah memiliki peran penting sebagai sarana komunikasi formal dalam berbagai acara adat dan kegiatan kemasyarakatan. Sesorah tidak hanya sekadar berbicara di depan umum, namun juga mencakup aspek-aspek kebahasaan, etika, dan nilai-nilai budaya Jawa yang harus diperhatikan oleh sang penyampai pidato atau yang biasa disebut sebagai "juru sesorah".
Secara etimologi, kata "sesorah" berasal dari kata dasar "sorah" yang berarti "bicara" atau "ucapan". Penambahan awalan "se-" memberikan makna "melakukan tindakan bicara". Dengan demikian, sesorah dapat diartikan sebagai tindakan menyampaikan pembicaraan atau pidato. Dalam praktiknya, sesorah tidak hanya terbatas pada penyampaian informasi semata, tetapi juga mencakup aspek persuasi, hiburan, dan edukasi tergantung pada konteks dan tujuan acara.
Sesorah memiliki kedudukan yang istimewa dalam budaya Jawa karena dianggap sebagai salah satu bentuk keterampilan berbahasa tingkat tinggi. Seorang juru sesorah dituntut untuk menguasai tidak hanya konten pidatonya, tetapi juga aspek-aspek kebahasaan seperti unggah-ungguh basa (tingkat tutur), purwakanthi (permainan bunyi), dan berbagai gaya bahasa khas Jawa. Selain itu, pemahaman mendalam tentang etika Jawa, filosofi hidup, dan kearifan lokal juga menjadi modal penting bagi seorang juru sesorah yang handal.
Tujuan Sesorah
Sesorah atau pidato dalam bahasa Jawa memiliki beragam tujuan yang disesuaikan dengan konteks dan kebutuhan acara. Berikut ini adalah beberapa tujuan utama dari pelaksanaan sesorah:
Menyampaikan Informasi (Informasi): Salah satu tujuan mendasar dari sesorah adalah untuk memberikan informasi kepada para pendengar. Informasi ini bisa berupa pengumuman, pemberitahuan, atau penjelasan mengenai suatu topik tertentu. Misalnya, dalam acara pernikahan adat Jawa, sesorah digunakan untuk menjelaskan rangkaian acara dan makna filosofis di balik ritual-ritual yang dilaksanakan.
Memberikan Edukasi (Pendidikan): Sesorah juga berfungsi sebagai sarana edukasi bagi masyarakat. Melalui pidato, nilai-nilai luhur, ajaran moral, dan kearifan lokal dapat disampaikan dan dilestarikan. Contohnya, dalam acara peringatan hari besar, sesorah sering digunakan untuk mengingatkan kembali tentang sejarah dan nilai-nilai perjuangan.
Mempengaruhi Pendengar (Persuasi): Tujuan persuasif dari sesorah adalah untuk mempengaruhi sikap, pendapat, atau perilaku pendengar. Dalam konteks ini, juru sesorah berusaha meyakinkan audiens untuk melakukan atau meyakini sesuatu. Misalnya, dalam kampanye kesehatan, sesorah dapat digunakan untuk mengajak masyarakat menerapkan pola hidup sehat.
Menghibur (Rekreasi): Meskipun umumnya bersifat formal, sesorah juga dapat bertujuan untuk menghibur pendengar. Hal ini biasanya dicapai melalui penggunaan humor, anekdot, atau gaya bahasa yang menarik. Sesorah jenis ini sering dijumpai dalam acara-acara perayaan atau syukuran.
Memotivasi (Inspirasi): Sesorah dapat digunakan sebagai alat untuk memotivasi dan menginspirasi pendengar. Juru sesorah menyampaikan pesan-pesan yang membangkitkan semangat dan mendorong perubahan positif. Contohnya, dalam acara wisuda atau pelepasan siswa, sesorah motivasi sering disampaikan untuk memberi semangat kepada para lulusan.
Melestarikan Budaya: Dalam konteks budaya Jawa, sesorah memiliki peran penting dalam melestarikan bahasa dan nilai-nilai tradisional. Melalui penggunaan bahasa Jawa yang baik dan benar, serta penyampaian filosofi-filosofi Jawa, sesorah menjadi media transmisi budaya antar generasi.
Menjalin Hubungan Sosial: Sesorah juga berfungsi sebagai sarana untuk menjalin dan memperkuat hubungan sosial dalam masyarakat. Dalam acara-acara adat seperti pernikahan atau syukuran, sesorah menjadi media untuk menyampaikan rasa hormat, terima kasih, dan doa restu.
Dokumentasi Sejarah: Dalam beberapa konteks, sesorah dapat berfungsi sebagai bentuk dokumentasi sejarah lisan. Pidato-pidato penting dalam acara-acara besar seringkali dicatat dan dijadikan referensi untuk generasi mendatang.
Pemahaman yang baik tentang tujuan sesorah akan membantu juru sesorah dalam menyusun dan menyampaikan pidatonya secara efektif. Tujuan-tujuan ini seringkali tidak berdiri sendiri, melainkan saling tumpang tindih dan melengkapi satu sama lain dalam satu pidato. Oleh karena itu, seorang juru sesorah yang baik harus mampu memadukan berbagai tujuan ini sesuai dengan konteks dan kebutuhan acara.
Ciri-Ciri Sesorah yang Baik
Sesorah yang baik memiliki beberapa ciri khas yang membedakannya dari pidato biasa. Berikut adalah ciri-ciri sesorah yang perlu diperhatikan:
Penggunaan Bahasa Jawa yang Tepat: Sesorah menggunakan bahasa Jawa dengan tingkat tutur (unggah-ungguh basa) yang sesuai. Pemilihan kata dan struktur kalimat harus mencerminkan kesopanan dan penghormatan kepada pendengar.
Struktur yang Jelas: Sesorah yang baik memiliki struktur yang terorganisir dengan baik, terdiri dari pembukaan (pambuka), isi (isi), dan penutup (panutup). Setiap bagian memiliki fungsi dan karakteristik tersendiri.
Penggunaan Gaya Bahasa yang Indah: Sesorah sering menggunakan gaya bahasa seperti purwakanthi (permainan bunyi), paribasan (peribahasa Jawa), dan bebasan (ungkapan) untuk memperindah penyampaian.
Intonasi dan Artikulasi yang Jelas: Juru sesorah harus memiliki intonasi suara yang baik dan artikulasi yang jelas agar pesan dapat tersampaikan dengan efektif.
Sikap dan Gestur yang Sopan: Dalam menyampaikan sesorah, pembicara harus menunjukkan sikap dan gestur tubuh yang sopan dan menghormati audiens.
Konten yang Relevan dan Bermanfaat: Isi sesorah harus relevan dengan tema acara dan memberikan manfaat atau nilai tambah bagi pendengar.
Penggunaan Humor yang Tepat: Sesorah yang baik sering memasukkan unsur humor untuk mencairkan suasana, namun tetap dalam batas kesopanan dan tidak berlebihan.
Penyampaian yang Sistematis: Gagasan dalam sesorah disampaikan secara sistematis dan logis, sehingga mudah diikuti oleh pendengar.
Penggunaan Contoh dan Ilustrasi: Untuk memperjelas pesan, sesorah yang baik sering menggunakan contoh atau ilustrasi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Durasi yang Sesuai: Sesorah yang baik memperhatikan durasi waktu yang tersedia, tidak terlalu singkat atau terlalu panjang.
Dengan memperhatikan ciri-ciri ini, seorang juru sesorah dapat menyampaikan pidatonya dengan lebih efektif dan menarik, sesuai dengan nilai-nilai dan etika dalam budaya Jawa.
4 dari 14 halaman
Struktur Sesorah
Struktur sesorah merupakan kerangka dasar yang menjadi pedoman dalam menyusun dan menyampaikan pidato bahasa Jawa. Struktur ini terdiri dari beberapa bagian utama yang saling berkaitan dan membentuk satu kesatuan yang utuh. Berikut adalah penjelasan detail mengenai struktur sesorah:
Salam Pembuka (Uluk Salam)
Bagian ini merupakan pembuka sesorah yang bertujuan untuk menyapa dan menghormati para pendengar. Salam pembuka biasanya disesuaikan dengan waktu pelaksanaan acara dan latar belakang agama mayoritas pendengar. Contoh salam pembuka:
"Amit pasang kalimantaya, nuwun" (salam penghormatan dalam bahasa Jawa)
"Kawilujengan, raharja, saha bagya raharja mugi tansah kajiwa kasarira dhumateng panjenengan sedaya" (ucapan selamat dan doa dalam bahasa Jawa halus)
Pembukaan (Purwaka)
Bagian pembukaan terdiri dari beberapa elemen penting:
Atur Pakurmatan: Ucapan penghormatan kepada tamu dan hadirin sesuai dengan tingkatan dan kedudukan mereka.
Atur Syukur: Ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas terlaksananya acara.
Atur Panuwun: Ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu terlaksananya acara.
Isi (Wigatosing Atur)
Bagian ini merupakan inti dari sesorah yang berisi pesan utama yang ingin disampaikan. Isi sesorah harus disusun secara sistematis dan logis, terdiri dari:
Pendahuluan: Pengantar menuju topik utama.
Isi Pokok: Penjabaran detail mengenai topik yang dibahas.
Argumentasi: Penjelasan yang memperkuat isi pokok, bisa berupa data, fakta, atau contoh.
Kesimpulan: Ringkasan dari poin-poin penting yang telah disampaikan.
Penutup (Wasana Atur)
Bagian penutup terdiri dari:
Dudutan: Kesimpulan akhir dari seluruh isi pidato.
Pangajab: Harapan atau pesan yang ingin disampaikan kepada pendengar.
Panuwun: Ucapan terima kasih atas perhatian pendengar.
Nyuwun Pangapunten: Permohonan maaf atas kekurangan atau kesalahan dalam penyampaian.
Salam Penutup (Salam Panutup)
Bagian ini merupakan penutup formal dari sesorah, biasanya berupa salam atau doa. Contoh:
"Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh"
"Nuwun, matur nuwun"
Struktur sesorah ini bersifat fleksibel dan dapat disesuaikan dengan konteks acara serta durasi yang tersedia. Namun, secara umum, urutan dan elemen-elemen dasar ini tetap dipertahankan untuk menjaga keutuhan dan keefektifan penyampaian pesan dalam sesorah.
Metode Penyampaian Sesorah
Dalam menyampaikan sesorah, terdapat beberapa metode yang dapat digunakan. Pemilihan metode ini bergantung pada berbagai faktor seperti kemampuan pembicara, situasi acara, dan tingkat formalitas. Berikut adalah penjelasan detail mengenai metode-metode penyampaian sesorah:
Metode Naskah (Maca Naskah)
Metode ini melibatkan pembacaan naskah sesorah yang telah disiapkan sebelumnya. Pembicara membaca teks secara langsung dari naskah yang dipegang atau diletakkan di podium.
Kelebihan:
Mengurangi risiko kesalahan atau lupa
Memastikan ketepatan isi dan struktur pidato
Cocok untuk acara formal yang memerlukan ketepatan informasi
Kekurangan:
Kurang fleksibel dan interaktif
Dapat mengurangi kontak mata dengan audiens
Berisiko terkesan kaku atau kurang alami
Metode Hafalan (Apalan)
Dalam metode ini, pembicara menghafal seluruh isi naskah sesorah dan menyampaikannya tanpa membaca teks.
Kelebihan:
Memungkinkan kontak mata yang lebih baik dengan audiens
Terkesan lebih alami dan mengalir
Memungkinkan penggunaan gestur dan ekspresi yang lebih bebas
Kekurangan:
Risiko lupa atau salah urutan
Membutuhkan persiapan dan latihan yang intensif
Dapat terkesan kaku jika terlalu fokus pada mengingat teks
Metode Ekstemporan (Dadakan Kanthi Cathetan)
Metode ini menggunakan catatan ringkas atau outline sebagai panduan, namun pembicara mengembangkan isi pidato secara spontan.
Kelebihan:
Lebih fleksibel dan dapat disesuaikan dengan situasi
Memungkinkan interaksi yang lebih baik dengan audiens
Terkesan lebih alami dan mengalir
Kekurangan:
Membutuhkan keterampilan berbicara yang baik
Risiko keluar dari topik utama
Memerlukan persiapan yang matang meskipun tidak menghafal teks lengkap
Metode Impromptu (Dadakan)
Metode ini melibatkan penyampaian sesorah secara spontan tanpa persiapan khusus.
Kelebihan:
Sangat fleksibel dan dapat disesuaikan dengan situasi saat itu
Terkesan lebih alami dan interaktif
Cocok untuk situasi yang tidak terduga atau informal
Kekurangan:
Risiko tinggi untuk keluar dari topik atau tidak terstruktur
Membutuhkan pengalaman dan keterampilan berbicara yang sangat baik
Tidak cocok untuk acara formal yang memerlukan ketepatan informasi
Pemilihan metode penyampaian sesorah harus mempertimbangkan beberapa faktor seperti:
Tingkat formalitas acara
Durasi yang tersedia
Kemampuan dan pengalaman pembicara
Kompleksitas topik yang dibahas
Karakteristik audiens
Dalam praktiknya, seorang juru sesorah yang berpengalaman sering mengkombinasikan beberapa metode untuk mencapai hasil yang optimal. Misalnya, menggunakan metode ekstemporan dengan sesekali merujuk pada naskah untuk data atau informasi penting.
6 dari 14 halaman
Persiapan Sebelum Sesorah
Persiapan yang matang merupakan kunci keberhasilan dalam menyampaikan sesorah. Berikut adalah langkah-langkah persiapan yang perlu dilakukan sebelum menyampaikan sesorah:
Pemahaman Konteks Acara
Pelajari tujuan dan tema acara
Kenali karakteristik audiens (usia, latar belakang, jumlah)
Pahami durasi yang disediakan untuk sesorah
Penentuan Topik dan Tujuan
Pilih topik yang relevan dengan acara
Tentukan tujuan spesifik dari sesorah (informasi, persuasi, motivasi, dll)
Rumuskan pesan utama yang ingin disampaikan
Pengumpulan Materi
Lakukan riset mendalam tentang topik
Kumpulkan data, fakta, dan contoh yang relevan
Catat kutipan atau peribahasa Jawa yang sesuai
Penyusunan Kerangka Sesorah
Buat outline sesuai struktur sesorah (pembukaan, isi, penutup)
Susun poin-poin utama secara logis dan sistematis
Siapkan transisi antar bagian agar mengalir dengan baik
Penulisan Naskah
Tulis naskah lengkap berdasarkan kerangka yang telah dibuat
Gunakan bahasa Jawa yang sesuai dengan tingkat tutur (unggah-ungguh basa)
Sisipkan gaya bahasa dan ungkapan Jawa yang tepat
Latihan dan Penyempurnaan
Latih penyampaian sesorah berulang kali
Minta umpan balik dari orang lain
Perbaiki naskah dan cara penyampaian berdasarkan umpan balik
Persiapan Mental dan Fisik
Lakukan teknik relaksasi untuk mengurangi kecemasan
Pastikan kondisi fisik prima (cukup istirahat, makan, dan minum)
Visualisasikan diri menyampaikan sesorah dengan sukses
Persiapan Teknis
Cek lokasi dan peralatan yang akan digunakan (mikrofon, podium, dll)
Siapkan naskah atau catatan dalam format yang mudah dibaca
Pilih pakaian yang sesuai dengan acara dan nyaman digunakan
Dengan melakukan persiapan yang menyeluruh, seorang juru sesorah dapat meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuannya dalam menyampaikan pidato yang efektif dan berkesan.
sumber : https://www.liputan6.com/feeds/read/5813295/ciri-ciri-sesorah-panduan-lengkap-menyampaikan-pidato-bahasa-jawa?page=3
Melaksanakan perintah Allah Ta’ala merupakan bagian dari bukti kebaikan iman seorang hamba. Begitu pula dalam hal meninggalkan larangan Allah Ta’ala. Belajar dan menuntut ilmu syar’i untuk mengetahui tata cara melaksanakan perintah Allah sesuai dengan petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan izin Allah kini mudah kita lakukan. Begitu pula tentang hal-hal yang menjadi larangan Allah, sungguh kita dengan mudah dapat mengetahuinya.
Para dai dan ulama ahlusunah yang berpegang teguh pada jalan para sahabat radhiyallahu ‘anhum dalam menjalankan misi dakwah lillah kini pun dengan mudahnya dapat kita temui, baik secara langsung maupun melalui jaringan teknologi. Dengannya, kita mudah memperoleh ilmu syar’i, mengetahui perbedaan hak (kebenaran) dan batil, serta menjadi pribadi muslim yang berpegang teguh dengan prinsip-prinsip agama yang kokoh, insyaAllah.
Namun, dalam perjalanan kehidupan ini, tentunya kita dihadapkan dengan berbagai ujian keimanan yang selalu membisikkan keburukan dalam hati kita, baik dari sisi jin maupun manusia.
“Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhannya manusia, raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” (QS. An-Nas: 1-6)
Kadangkala, kita hanya fokus dengan mengerjakan perintah Allah, kemudian merasa sudah istikamah dalam melaksanakannya. Sementara kita lupa bahwa ada aspek lain yang juga kita diperintahkan untuk istikamah, yaitu meninggalkan segala larangan yang telah Allah Ta’ala tetapkan. Itulah dua definisi takwa yang sering terabaikan.
“Dari Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi, ia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasûlullâh, katakanlah kepadaku di dalam Islam satu perkataan yang aku tidak akan bertanya kepada seorang pun setelah Anda!’ Beliau menjawab, ‘Katakanlah, ‘Aku beriman.’, lalu istikamahlah!’” (HR. Muslim no. 38; Ahmad 3: 413; Tirmidzi no. 2410; Ibnu Majah no. 3972)
Hadis di atas memberikan pelajaran kepada kita tentang keistikamahan yang didahului dengan ikrar keimanan. Iman merupakan amalan hati di mana pembuktiannya tidak terlihat karena yang mengetahui isi hati seseorang hanyalah Allah Ta’ala. Kaitannya dengan definisi takwa di atas adalah bahwa pembeda antara ketaatan dan kemaksiatan adalah keimanan.
Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitab Jami’ Al-Masail berkata,
الصحابة وجمهور السلف على أن الإيمان يزيد وينقص
“Para sahabat dan jumhur salaf berada di atas pendapat bahwa iman itu dapat bertambah dan berkurang.”
Dengan kata lain, keistikamahan itu sangat tergantung pada kualitas iman yang kadang bertambah dan berkurang. Maka, apabila kita menginginkan keistikamahan dalam ketaatan, hendaklah kita perhatikan kondisi keimanan kita, lalu memohon kepada Allah Ta’ala agar diberikan karunia iman yang kokoh.
“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (QS. Al-Fath: 4)
Saudaraku, kesadaran bahwa kita sangat membutuhkan iman yang kokoh dan keistikamahan takwa adalah anugerah yang agung dari Allah Ta’ala, syukurilah hal tersebut. Karena betapa banyak orang yang terus-menerus dalam kemaksiatan tanpa mengetahui kesalahan yang sedang ia lakukan. Parahnya, ia menikmati kemaksiatan tersebut tanpa menyadari bahwa Allah Ta’ala sedang memberikan ujian kepadanya hingga bertumpuklah dosanya. Nabi shallallahu ‘alahi wasallam memberikan istilah bagi orang tersebut dengan sebutan “istidraj”. Wal-‘iyadzu billah
“Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad 4: 145. Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, Syekh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadis ini hasan dilihat dari jalur lain)
“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44)
Saudaraku, tidak ada yang menginginkan menjadi hamba yang terkena ujian istidraj. Tetapi kenyataannya, banyak manusia yang terjerumus dalam ujian tersebut dan sulit untuk bangkit dari jurang kemaksiatan. Wal-‘iyadzu billah.
Oleh karenanya, iman dan takwa merupakan dua anugerah agung yang sangat berarti bagi kehidupan duniawi dan ukhrawi kita. Pikirkanlah dua hal ini setiap saat, dan lakukanlah hal-hal untuk memperoleh iman yang kokoh dan keistikamahan takwa, serta jagalah dua anugerah agung ini dengan sebaik-baiknya sebagaimana Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wasallam ajarkan dalam sunahnya.
Maka dari itu, sekali lagi. Mohonlah anugerah keimanan yang kokoh dan keistikamahan takwa kepada Allah Ta’ala. Selain itu, dengan ikhlas dan mutaba’ah, lakukanlah sebab-sebab mendapatkan dua hal tersebut. Jadilah hamba Allah yang dicintai oleh-Nya.
Ber-taqarrub dengan Allah Ta’ala dengan melakukan amalan-amalan sunah sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan bagian dari upaya mendapatkan dua anugerah agung tersebut.
“Dan hamba-Ku terus-menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal sunah, sampai Aku mencintainya. Jika Aku sudah mencintainya, Aku menjadi pendengaran yang dia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatan yang dia gunakan untuk melihat, menjadi tangan yang dia gunakan untuk memegang, dan menjadi kaki yang dia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku, sungguh akan Aku beri. Jika dia meminta perlindungan kepada-Ku, sungguh akan Aku lindungi.“ (HR. Bukhari no. 6502 dari Abu Hurairah)
Saudaraku, Allah Ta’ala tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan hamba-Nya. Maka yakinlah serumit apapun kehidupan yang engkau jalani saat ini di mana hal itu menjadi alasanmu untuk mempertahankan jarakmu dengan Rabbmu, sungguh jalan menuju kecintaan dan keridaan Allah Ta’ala itu terbuka lebar.
Praktikkanlah pesan hadis di atas sebagai ikhtiarmu untuk mendapatkan dua anugerah agung (iman yang kokoh dan keistikamahan takwa) itu. Berprasangka baiklah kepada Allah Ta’ala bahwa engkau akan mendapatkan kemudahan dalam meniti jalan menuju surga-Nya.
Scratch adalah aplikasi pemrograman dengan antarmuka visual yang memungkinkan seorang pemula untuk membuat cerita, permainan, dan animasi digital. Scratch ini sangat mudah digunakan karena tidak seperti aplikasi pemrograman lainnya yang menggunakan teks untuk membuat sebuah program, Scratch menggunakan sistem yang disebut coding block. Coding block adalah sebuah sistem yang membuat kodingan menjadi blok-blok. Sehingga kita hanya tinggal melakukan drag dan drop lalu menyusun blok kode tersebut seperti puzzle untuk membuat program yang diinginkan. Scratch dapat diakses secara online melalui website https://scratch.mit.edu dan offline dengan cara mengunduh aplikasi Scratch dan mengunduh aplikasi tambahan yaitu Adobe Air.
Jenis-Jenis Scratch
Scratch memilik dua versi berbeda yang dapat digunakan, yaitu Scratch dan ScratchJr. Scratch adalah aplikasi yang dikembangkan dan didesain untuk umur 8 tahun keatas yang memungkinkan mereka untuk membuat cerita, permainan, maupun animasi digital sendiri. Scratch ini telah digunakan di lebih dari 200 negara dan tersedia dalam 70 bahasa. ScratchJr adalah aplikasi yang dibuat dan didesain untuk anak-anak berumur 5 sampai 7 tahun sebagai pengenalan ke programming agar mereka dapat membuat permainan dan cerita mereka sendiri. Tampilan antarmuka dari ScratchJr ini didesain ulang dari Scratch biasa agar lebih mudah digunakan oleh anak-anak. ScratchJr ini dapat diunduh secara gratis di Appstore atau Playstore.
Fitur-fitur Scratch
Untuk membantu dalam pembuatan cerita interakrif, game, atau animasi, Scratch memiliki beberapa fitur yang dapat digunakan. Fitur-fitur tersebut diantaranya :
1. Sprite
Sprite adalah gambar yang dapat diprogramkan dengan balok koding. Sprite ini dapat digunakan sebagai karakter di game atau karya lain yang ingin dibuat. Sprite juga dapat diganti atau ditambah dengan cara memilih sprite yang tersedia di library sprite, menggambar sendiri, atau dapat juga mengunggah gambar yang ada di komputer sendiri dengan meng-klik Upload Sprite.
2. Backdrop dan Stage
Backdrop adalah gambar yang dapat digunakan sebagai latar belakang dari karya yang dibuat. Sama seperti sprite, backdrop dapat diganti atau ditambah dengan cara memilih backdrop yang tersedia di library backdrop, menggambar sendiri, atau dapat mengunggah gambar yang ada di komputer sendiri dengan meng-klik Upload Backdrop.
3. Code
Script adalah kumpulan perintah koding dalam bentuk blok yang dapat digunakan untuk melakukan hal-hal berbeda terhadap sprite atau backdrop dari karya yang dibuat. Didalam scratch terdapat 10 perintah yang berbeda, yaitu :
a) Motion Bagian motion berisi blok yang memberikan perintah untuk menggerakkan sprite.
b) Looks Bagian looks berisi blok yang memberikan perintah berhubungan dengan tampilan karya yang dibuat.
c) Sound Bagian sound berisi blok yang memberikan perintah berhubungan dengan suara karya yang dibuat.
d) Events Bagian events berisi blok yang memberikan perintah untuk memicu script lain di karya yang dibuat.
e) Control Bagian control berisi blok yang memberikan perintah untuk mengontrol script lain di karya yang dibuat.
f) Sensing Bagian sensor berisi blok yang memberikan perintah mendeteksi objek atau benda lain di karya yang dibuat.
g) Operators Bagian operator berisi blok yang memberikan perintah untuk melakukan operasi matematika di karya yang dibuat.
h) Variables Bagian variable berisi blok yang dapat digunakan untuk membuat variable baru yang dibutuhkan untuk karya yang dibuat.
i) My Blocks Bagian My Blocks berisi blok yang dapat digunakan untuk membuat blok koding baru untuk membantu pengerjaan karya yang dibuat.
4. Costumes
Costumes adalah kumpulan pose yang dimiliki oleh sprite. Setiap sprite memiliki jumlah pose yang berbeda. Pose yang ada juga dapat di edit di bagian kanvas edit sebelah kanan. Sama seperti sprite, kostum dapat ditambah dengan memilih langsung di library kostum, menggambar sendiri, atau dengan cara mengunggah gambar yang ada di komputer sendiri dengan meng-klik Upload Costume.
5. Sounds
Sounds adalah kumpulan suara yang dimiliki oleh sprite. Setiap sprite yang ada di Scratch biasanya disediakan satu suara secara otomatis. Sama seperti kostum, suara yang ada dapat diedit di bagian kanvas edit sebelah kanan. Suara ini juga dapat ditambahkan dengan cara yang sama seperti sprite, dapat dengan memilih langsung dari library sound, merekam suara sendiri atau dengan cara mengunggah suara yang ada di komputer dengan meng-klik Upload Sound.
Nah sekarang sudah tau tentang Scratch kan Rekhatizen? Gimana tertarik untuk belajar scratch? Ayo belajar bikin game kreasimu!
sumber : https://www.rekhatama.com/rekha/articles/scratch