Secara etimologi, kata "sesorah" berasal dari kata dasar "sorah" yang berarti "bicara" atau "ucapan". Penambahan awalan "se-" memberikan makna "melakukan tindakan bicara". Dengan demikian, sesorah dapat diartikan sebagai tindakan menyampaikan pembicaraan atau pidato. Dalam praktiknya, sesorah tidak hanya terbatas pada penyampaian informasi semata, tetapi juga mencakup aspek persuasi, hiburan, dan edukasi tergantung pada konteks dan tujuan acara.
Sesorah memiliki kedudukan yang istimewa dalam budaya Jawa karena dianggap sebagai salah satu bentuk keterampilan berbahasa tingkat tinggi. Seorang juru sesorah dituntut untuk menguasai tidak hanya konten pidatonya, tetapi juga aspek-aspek kebahasaan seperti unggah-ungguh basa (tingkat tutur), purwakanthi (permainan bunyi), dan berbagai gaya bahasa khas Jawa. Selain itu, pemahaman mendalam tentang etika Jawa, filosofi hidup, dan kearifan lokal juga menjadi modal penting bagi seorang juru sesorah yang handal.